Perjalanan Mandiri Menembus Jantung Himalaya – Bagian I: Poon Hill

Memenuhi Janji yang Dulu Hanya Mimpi.
9 July 2025
by

NAMASTE! Ini saatnya aku memberikan hadiah sebagai bentuk penghargaan untuk diriku sendiri, yang telah bekerja keras, yang telah menggunakan banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk mencari penghidupan. Aku berhak mengapresiasi diri. Ini adalah bentuk kebahagiaan tersendiri bagiku. Kebahagiaan untuk seseorang yang menikmati buah dari pekerjaannya sendiri. Aku memilih hadiah perjalanan ini dengan sadar. Sendiri. Tanpa kawan. Tanpa rombongan. Tanpa pemandu. Tanpa porter. Hanya aku, tas gunung tempurku yang bergaya militer, dan tekad untuk berjalan dalam kesunyian yang kupilih sendiri, karena ramai tak selalu berarti hidup.

Aku memilih jalan ini bukan karena mudah, tapi karena memang inilah yang paling sesuai dengan kondisi saat ini. Aku tidak lagi butuh pengakuan, tepuk tangan, atau persetujuan dari orang lain. Open trip memang terlihat menarik, tapi sekarang bukan waktunya. Lingkar pertemananku juga sempit. Tak ada yang bisa diajak. Lagi pula, mereka tidak punya banyak waktu, sibuk dengan kehidupannya masing-masing, sudah banyak yang pensiun naik gunung, dan juga tidak semua orang mau diajak terbang tinggi. Seperti elang, aku tidak mencari kawanan, tapi bukan berarti kesepian. Elang menemukan kedamaian di ketinggian, karena tahu di sanalah jiwanya bernafas. Tapi memang, aku melakukan perjalanan mandiri ini karena aku juga perlu mengambil jarak dari hiruk-pikuk dunia, mengistirahatkan pikiranku dari rutinitas yang menyempitkan nafas, dari layar yang terus menyala, dan dari percakapan-percakapan kosong yang kian menjauhkan diri dari diri sendiri. Aku sadar bahwa diriku butuh ruang untuk bernafas. Saat elang bulunya rusak, paruhnya menua, elang akan menyepi di gunung yang tinggi. Dia merontokkan bulunya sendiri, mematukkan paruh lamanya ke batu, menunggu yang baru tumbuh. Sakit, lama, tapi itulah cara elang menghidupkan kembali dirinya.

Kusiapkan segalanya sebaik yang aku bisa. Mental kutempa dan tubuh kulatih dengan disiplin. Aku menantang nafasku sendiri dengan lari pagi dan sore, melatih ototku dengan angkat beban di tempat gym, dan sungguh, aku harus berdamai dengan banyak rasa sakit. Aku belajar dari Kinabalu. Aku tak ingin tersandung di tempat yang lebih tinggi. Untuk Nepal, semua harus matang. Semua titik lemah harus dibenahi, terutama kakiku, yang dulu sempat mengecewakan. Lebih baik sakit saat latihan, daripada kalah saat perang.

Di sela waktu, aku membiarkan tubuhku meluncur di bawah permukaan air, berenang menembus setiap rasa ragu yang mencoba menahanku. Seorang rekan sempat berujar sebaiknya aku tidak ke Nepal karena aku sudah pernah ke sana, masih banyak negara lain yang bisa dijelajahi. Aku sempat mempertimbangkannya, dan aku hargai saran itu. Tapi, aku tidak mau hidup dari kata-kata orang lain. Aku juga tidak mau kehilangan suaraku sendiri. Tekadku akhirnya mengkristal. Aku benar-benar terpanggil untuk menyaksikan kemegahan Himalaya dan menembus jantungnya.

Di saat banyak orang di luar sana mencibir kegiatan mendaki gunung, entah karena reputasinya yang tercoreng oleh ulah sejumlah bocil alay yang salah memaknai esensi pendakian, atau karena kabar tentang korban jiwa yang membuat kegiatan ini tampak berbahaya dan sia-sia, hingga sebagian orang pun memilih jalan yang lebih nyaman, yaitu rebahan sambil nonton Netflix, tak perlu letih, tak perlu risiko, dan tak perlu berurusan dengan sunyi, aku memilih untuk tetap melangkah. Bukan untuk membuktikan apa-apa. Bukan untuk pamer pencapaian atau mengejar eksistensi. Tapi karena di balik perjalanan fisik yang melelahkan, ada perjalanan batin yang justru jauh lebih dalam. Asal mereka tahu, dengan perencanaan yang matang, naik gunung justru bisa menjadi aktivitas yang menyehatkan, memperkuat mental, dan memberikan pengalaman hidup yang tak tergantikan. Mereka yang mengejek, barangkali belum pernah berdiri diam di punggung bukit, mendengar detak jantungnya bersaing dengan desir angin, lalu merasakan sesuatu yang mengguncang jiwa. Dan itu tak bisa dijelaskan. Hanya bisa dirasakan.

Bagiku, bisa kembali mendaki gunung, lepas dari rutinitas, bising kota, dan beban sosial, mengenal diri lebih jujur, mampu melangkah di jalur-jalur terjal, menyaksikan keindahan ciptaan-Nya yang begitu agung, adalah berkah yang tak ternilai. Apapun yang aku terima, aku dapatkan, aku alami, adalah bagian dari pemberian Allah yang layak untuk disyukuri. Memang tak semua orang perlu tahu berkah yang aku terima. Tapi, jika kisahku bisa menguatkan langkah orang lain, jika pengalamanku bisa menjadi lentera bagi yang sedang berjalan, jika jejakku bisa menjadi petunjuk bagi yang tersesat, dan jika perjalananku bisa menjadi inspirasi bagi yang mencari arah, aku tidak ragu untuk bercerita. Akan kuabadikan semuanya dalam kata. Semoga tergolong dalam sabda Nabi bahwa sebaik-baik hamba adalah yang bermanfaat untuk lainnya.

Kini, aku kembali menginjakkan kaki di bumi yang sembilan tahun lalu pernah kupijak. Aku ke sini bukan sekadar untuk berkeringat. Bukan karena krisis diri. Bukan untuk mencari potongan diri yang hilang. Bukan pula untuk mencari jati diri. Karena, jati diri itu sudah aku temukan ketika jaman kuliah dulu. Aku tahu betul, aku pribadi yang sangat suka tantangan. Aku datang ke sini sebagai pribadi yang telah diasah oleh waktu, dengan hati yang lebih kuat dan semangat yang lebih menyala. Aku ingin kembali ke ketinggian 4000-an mdpl. Aku ingin melampaui batas yang pernah kucapai di Borneo. Meski hanya terpaut sedikit lebih tinggi dari Puncak Kinabalu, bagiku itu adalah simbol langkah maju. Semakin tinggi jalur, semakin berat langkah, semakin panjang perjalanan, semakin aku merasa hidup. Ini adalah hadiah terbaik yang bisa aku kenang di kemudian hari. Ini bukanlah perjalanan untuk menemukan diri. Ini adalah perjalanan untuk membangun diri.

Ini adalah tentang perjalanan pulang kepada diriku sendiri, yang pernah berani, pernah penuh mimpi, dan pernah ingin menjelajahi dunia, mendaki gunung-gunung, menyusuri jalan-jalan asing, dan bertemu orang-orang baru. Ini tentang aktualisasi diri. Ini tentang proses menjadi seseorang yang pantas mendapat hadiah untuk menyentuh langit di 4130 meter. Aku berdiri di negeri yang diimpikan oleh para pendaki gunung di seluruh penjuru dunia. Negeri yang menantang setiap pendaki untuk menaklukkan diri dan merasakan kebesaran alam. Inilah… NEPAL!

Aku berdiri di hadapan Annapurna South, menyaksikan kemegahan ciptaan-Nya.

Drama Keberangkatan

Paspor. Buku kecil itu menjadi kunci pembuka gerbang dunia. Dengan setiap cap imigrasi, ia menyimpan cerita, petualangan, dan kenangan. Sayangnya, buku kecil berwarna hijau milikku itu telah habis masa berlakunya, menyisakan halaman-halaman kosong yang belum sempat bercerita. Rupanya, aku jarang sekali melihat dunia.

Kubuka aplikasi M-Paspor di ponsel, berharap menemukan jadwal yang cocok untuk mengganti paspor. Aku harus segera mengurusnya. Aku tak ingin menghabiskan waktu hanya untuk urusan administrasi ini. Aku pun memilih layanan paspor kilat, meski harus membayar lebih. Ironisnya, semua kantor imigrasi di Bali, tempat aku tinggal sekarang, sudah penuh. Tak satu pun slot tersisa pada tanggal yang kuharapkan. Aku mencoba mengintip jadwal di ibu kota, Jakarta, tapi keadaannya tak jauh berbeda. Lalu, mataku menangkap secercah harapan. Banyak slot hijau terbuka di Kota Pahlawan, Surabaya. Tanpa banyak pikir panjang, aku langsung memilih jadwal yang tersedia, mengepak perlengkapan perjalananku, dan segera memesan tiket untuk terbang ke sana.

Pagi hari, 17 April 2025. Seorang petugas imigrasi menyambutku di balik loket. Wajahnya bersih, rambutnya tersisir rapi, dan dari rautnya, jelas sekali usianya masih lebih muda dariku. Aku serahkan berkas-berkasku. Ia menerimanya dengan sopan, lalu mulai memeriksa satu per satu dokumen yang kubawa.

“Mau ke mana, Mas?”, tanyanya ramah sembari mengecek berkas-berkas yang kuberikan. Ia memanggilku dengan sebutan ‘Mas’, bukan ‘Pak’. Padahal jenggot sudah memanjang. Mungkin karena wajahku masih menyisakan kesan muda, meski usiaku telah 36 tahun, masa peralihan, ketika angka di KTP mulai terasa lebih berat dari langkah kaki. Katanya, usia ini adalah golden hour bagi mereka yang pernah jatuh dan belajar bangkit. Saat di mana segala luka masa lalu menjelma pelajaran, bukan lagi beban. Saat tubuh belum sepenuhnya melemah, dan mimpi belum seluruhnya padam. Masih ada waktu untuk mencoba lagi, dengan cara yang lebih bijak, lebih sadar, dan lebih jujur pada diri sendiri.

“Mau ke Nepal naik gunung.”, aku jawab apa adanya.

Ia bertanya dengan nada ringan apakah gunung-gunung di Indonesia sudah selesai kudaki semua. Pertanyaan itu terdengar cukup menggelitik di telingaku. Tapi faktanya, ia bukan satu-satunya orang yang menanyakan hal itu. Dan aku sangat memakluminya. Indonesia dipenuhi gunung-gunung megah yang tak kalah memesona, tapi justru aku memilih berjalan lebih jauh, menembus batas negeri, mengarah ke belahan bumi lain. Tapi begitulah, setiap pejalan punya arah, setiap jiwa punya panggilannya sendiri. Himalaya bukan sekadar gugusan batu dan salju, ia ibarat tempat umrah dan haji para pendaki. Aku ingin tahu bagaimana rasanya berdiri di hadapan raksasa bumi dari dekat.

“Belum”, jawabku pelan dengan senyum yang tertahan.

Jumlah gunung di Indonesia bukan hitungan yang sederhana. Ada lebih dari 400 gunung, dan aku belum sempat menyapa Semeru, belum menjejak Rinjani, belum memeluk Kerinci, Latimojong, Slamet, Leuser, Tambora, Bukit Raya, Binaiya, apalagi Jaya Wijaya.

Ia penasaran, gunung terjauh mana di Indonesia yang pernah kudaki. Aku sempat terdiam, pertanyaan itu tak mudah kujawab, karena jawabannya pasti bikin malu. Aku belum pernah mendaki gunung di luar pulau Jawa. Bahkan di Jawa pun masih banyak yang belum. Pertanyaan itu aku jawab saja dengan menyebutkan gunung-gunung yang pernah kudaki. Di Jawa Barat, aku baru mendaki Gunung Ciremai, Guntur, dan Manglayang. Di Jawa Tengah, hanya Merbabu dan Sindoro. Jadi, masih bisa dihitung dengan jari, sangat sedikit.

Orang mengira, kalau pergi mendaki gunung di luar negeri, berarti sudah khatam dengan gunung dalam negeri. Padahal belum tentu. Aku masih hijau, masih pemula, pengalaman belum banyak. Namun meski begitu, aku sangat percaya diri untuk mengatakan bahwa aku adalah seorang pendaki. Bukan karena jumlah puncak yang telah kutaklukkan, tapi karena setiap langkahku selalu ingin menuju ketinggian.

Seketika, suasana obrolan pun menjadi semakin cair. Wawancara yang tadinya terasa sebagai prosedur administratif kini menjadi ruang percakapan yang lebih manusiawi. Obrolan kami mengalir, perlahan mencairkan batas antara petugas dan pemohon. Ada tawa kecil yang muncul tanpa dipaksa, dan keheningan singkat yang terasa hangat, bukan canggung. Wawancara untuk pembuatan paspor terasa santai dan jauh dari kesan kaku.

Masjid terbesar di Surabaya, diresmikan pada tanggal 10 November 2000, bertepatan dengan Hari Pahlawan.

“Di Surabaya ngapain, Mas, kerja?”, tanyanya sambil tetap sibuk mengetik sesuatu. Aku jelaskan bahwa aku tinggal dan kerja di Bali. Ke Surabaya hanya untuk keperluan pengurusan paspor saja.

Akhirnya, proses pemotretan wajah, pengambilan sidik jari, dan wawancara pun selesai. Aku diminta kembali pukul tiga sore untuk mengambil paspor baruku. Alhamdulillah, urusan paspor sangat cepat. Aku pun lanjut terbang ke Jakarta sore itu.

18 April 2025. Di Bandara Soekarno-Hatta, saat aku menjalani proses check-in untuk penerbangan maskapai TransNusa, seorang petugas perempuan yang melayaniku tampak mondar-mandir dan sesekali berbicara lewat telepon. Ia juga berdiskusi dengan petugas lain di dekatnya dengan bisik-bisik. Ada sesuatu yang terasa tidak biasa. Para penumpang sebelumku melalui proses check-in dengan cepat dan lancar. Tapi saat giliranku, justru memakan waktu lebih lama.

Petugas perempuan di balik meja itu mulai mengajukan berbagai pertanyaan tentang perjalanan yang akan aku lakukan. Ia menanyakan apakah aku sudah memiliki tiket pulang, di mana aku akan menginap, serta apa saja rencana selama berada di tempat tujuan. Dengan percaya diri dan tanpa rasa khawatir, aku menjawab semua pertanyaan itu. Aku yakin tidak ada yang perlu ditakutkan, aku bukanlah seseorang yang patut dicurigai, dan aku bukanlah orang kriminal.

Aku pun menunjukkan tiket kepulangan dari Kuala Lumpur ke Bali pada 12 Mei 2025. Perjalanan ini akan berlangsung selama 24 hari, cukup lama memang. Aku bilang akan menginap di sebuah hotel di Kuala Lumpur, meski baru reservasi untuk satu malam saja. Aku tunjukkan bukti reservasi penginapanku. Sisanya akan aku atur setelah tiba di sana. Di Malaysia sendiri aku hanya berencana tinggal beberapa hari saja.

Setelah beberapa saat, akhirnya boarding pass itu pun diberikan. Rasa lega langsung menyelimuti diriku. Aku senang, tapi drama ini baru dimulai, dan masih berlanjut.

Saat pemeriksaan barang bawaan sebelum boarding, petugas menanyakan tentang sebuah benda kecil yang terlihat di alat pemindai. Aku diminta membuka tas dan mengeluarkannya. Padahal tidak ada barang berbahaya yang kubawa. Aku turuti saja kemauan petugas. Dan, oalah, ternyata benda itu adalah gunting kuku. Aku sodorkan gunting kuku bawaanku yang dicurigai petugas, dan petugas pun mengangguk sambil mengangkat jempolnya.

Ya, aku selalu berusaha menjaga kuku tetap pendek dan bersih. Kuku yang panjang bukan cuma tak nyaman, tapi bisa jadi sarang kotoran dan bakteri. Saat terluka, risikonya berlipat. Apalagi di gunung, kuku kaki yang terlalu panjang bisa menekan sepatu, menimbulkan nyeri, atau bahkan lepas saat menuruni jalur curam. Gunting kuku bisa juga untuk memotong benang, tali, membuka kemasan makanan atau plester. Sederhana, tapi berguna.

Segalanya berjalan lancar hingga aku sampai di autogate imigrasi. Mesin seolah tak mengenali pasporku. Seorang petugas datang membantu, mencoba berkali-kali. Namun hasilnya tetap sama. Pintu tidak bisa terbuka. Ia menyerah dan berkata, “Langsung ke konter manual saja, Mas.”

Ketegangan pun kembali hadir. Mata petugas imigrasi itu menelusuri paspor baruku yang masih kosong melompong. Beberapa pertanyaan singkat berubah menjadi interogasi penuh curiga. Dan akhirnya, aku diarahkan menuju sebuah ruangan oleh petugas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Aku diminta menunggu di luar sebentar sebelum akhirnya dipersilakan masuk.

Aku ditanya tentang tujuan dan alasan perjalananku. Lalu aku jelaskan bahwa niatku adalah untuk traveling dan mendaki gunung. Aku berencana singgah beberapa hari di Malaysia, karena sayang sekali rasanya jika hanya sekadar numpang lewat di bandara. Aku punya cukup waktu untuk sedikit menjelajah sebelum melanjutkan perjalanan utamaku ke Nepal. Sepulang dari Nepal, aku ingin lanjut ke Vietnam. Meski tiketnya belum kupesan, tapi rencana itu sudah ada dalam kepala.

Melihat keraguan yang masih menggelayut di wajah mereka, aku mengeluarkan dua paspor lamaku. Aku menyebutkan bahwa aku pernah mendaki Gunung Kinabalu di Sabah, Malaysia. Di paspor yang lain, cap imigrasi membuktikan bahwa aku pernah menginjakkan kaki di Nepal sebelumnya. “Aku adalah seorang pendaki”, tegasku.

“Ada bukti dokumentasinya?”, tanya salah satu dari mereka, sambil membolak-balik halaman paspor lamaku. Ya Salaam… Parah sih. Bisa-bisanya mereka tidak percaya.

Aku sempat membagikan profil media sosial profesionalku, dengan headline yang menyebutkan bahwa aku seorang programmer sekaligus pendaki, sebagai bentuk penguat agar mereka yakin. Aku juga berupaya ingin memperlihatkan foto sertifikat pendakianku saat ke Kinabalu di galeri ponsel atau jepretan foto-foto lanskap yang aku taruh di layanan penyimpanan awan agar mereka semakin yakin. Namun, sebelum aku sempat menunjukkannya, petugas itu menghentikanku. Ia bilang kalau ia sudah percaya. Ia mengembalikan kedua paspor lamaku, lalu memohon maaf atas ketidaknyamanan yang aku alami. Ah, syukurlah.

Petugas itu kemudian menjelaskan bahwa ia mengikuti prosedur. Bagaimanapun, aku memakluminya, karena belakangan ini, di media massa diberitakan banyak WNI yang terjebak dalam kasus perdagangan manusia, penjualan organ, atau hal-hal lain yang tak diinginkan.

Sesampainya di Kuala Lumpur, Malaysia, hal pertama yang langsung terasa tidak menyenangkan adalah proses imigrasi yang cukup memakan waktu. Saat aku sedang menunggu dalam antrean panjang, seseorang di belakangku bertanya dalam bahasa Inggris, “Are you from Nepal?”. Aku tak habis pikir, ada orang yang mengiraku dari Nepal. Kenapa bukan Jepang? Wkwkwk.

No, I’m from Indonesia.”, jawabku dengan bangga.

Kami terlibat dalam obrolan ringan. Di tengah keramaian antrean itu, suasana jadi hangat dan akrab. Ternyata ia berasal dari Turki, masih sangat muda, 24 tahun, dan bekerja sebagai seorang pengacara. Ini adalah kunjungan pertamanya ke Malaysia. Rasa penasarannya terhadap dunia membawanya ke sini.

Begitu selesai melewati proses imigrasi, ia mengajakku pergi bersama ke pusat kota Kuala Lumpur. Kebetulan memang hotel kami di sana. Awalnya ia mengajak naik taksi, tapi aku mengusulkan naik kereta saja, KLIA Express, karena lebih murah. Ia setuju. Aku pun membeli dua tiket di Ticket Kiosk menggunakan kartu ATM BCA, dan ia menggantinya dengan uang tunai sebesar 55 ringgit, sesuai harga tiket.

Di kereta, kami ngobrol ke sana kemari. Tahu ia orang Turki, tak lupa aku singgung tentang Gunung Ararat. Namanya pendaki obrolannya ya tentang gunung. Gunung itu berdiri di ujung Timur Turki, diselimuti salju dan cerita-cerita dari ribuan tahun lalu. Aku ingin ke sana. Memang, aku belum tahu kapan bisa ke sana. Tapi ada tempat-tempat tertentu di dunia ini yang terasa seperti bagian dari perjalanan jiwaku. Dan bagiku, Ararat adalah salah satunya.

Pertemuanku dengan orang Turki itu hanya sekejap, kami berpisah di Stasiun KL Sentral. Pertemuanku dengannya jelas bukan sekedar kebetulan semata. Allah tidak akan mempertemukan dua orang, tanpa alasan dan tujuan. Bisa jadi aku yang memberinya pelajaran atau akulah yang diberi pelajaran.

Sesuai rencana, aku menghabiskan beberapa hari di Malaysia untuk lari pagi dan keliling kota. Malaysia memberiku ruang untuk merenung dan mempersiapkan diri sebelum menantang dinginnya Himalaya dan menapaki jalur-jalur sunyi di pegunungan Nepal.

Lari pagi di bawah bayangan Petronas yang megah.
Di bawah cahaya malam, Menara Kembar Petronas berdiri anggun menembus langit Kuala Lumpur.

Di tanggal keberangkatanku ke Nepal, 21 April 2025, sekitar pukul tujuh, aku meninggalkan hotel menuju bandara. Proses check-in berjalan lancar. Saat proses boarding, tasku lolos pemeriksaan, aku sempat mengira semuanya akan berjalan mulus. Namun, rupanya ada drama baru yang menegangkan menanti. Ketika masuk gate, ada satu lagi security screening sebelum terbang. Dan di sinilah aku harus kehilangan USD 100.

Aku menanggung akibat dari keputusanku sendiri, keengganan untuk menitipkan tas di bagasi. Bukan apa-apa, aku hanya tidak mau menunggu lama bagasi setelah mendarat. Tas gunung yang menempel di punggungku beratnya hampir 13 kilogram. Padahal aturan jelas menyebutkan, barang bawaan di kabin tak boleh melebihi 7 kilogram. Tapi aku nekat. Kupikir, tak ada pengecekan tas kabin di gerbang keberangkatan, semua akan baik-baik saja. Nyatanya tidak. Hari itu aku mengudara bersama Batik Air Malaysia, dan maskapai ini memeriksa berat tas kabin dengan teliti.

Petugas meminta USD 200 untuk bayar denda kelebihan beban 4 kg, yang seharusnya 5 kg lebih. Aku berharap ada keringanan. Aku menunjukkan salah satu dompetku yang hanya berisi dua lembar USD 50, dan beberapa lembar ringgit Malaysia. Petugas pun akhirnya meminta USD 100 saja, sesuai yang ada di dompet, dan menyesuaikan data kelebihan beban menjadi 2 kg.

Dan di sanalah aku belajar. Siapa bilang tas kabin tak pernah ditimbang? Batik Air Malaysia, maskapai yang kupilih kali ini, ternyata cukup ketat soal bagasi kabin. Begitulah. Perjalanan utama belum dimulai, tapi pelajaran sudah datang lebih dulu. Asumsi bisa jadi jebakan pertama dalam sebuah perjalanan.

Titik Awal Trekking

Perjalanan udara dari Kuala Lumpur menuju Kathmandu memakan waktu sekitar lima jam. Aku duduk di dekat jendela sebelah kanan. Pesawatnya standar, dengan susunan kursi 3 di kanan dan 3 di kiri. Setelah mendarat dan melewati proses imigrasi dengan membayar Visa on Arrival sebesar USD 50, aku resmi memasuki Nepal. Aku berencana menghabiskan 17 hari di negeri atap dunia ini. Total durasi trekking ke Poon Hill dan ABC seharusnya kisaran 8-12 hari, namun aku sengaja menyisakan beberapa hari sebagai hari cadangan dan waktu bersantai.

Mata memandang ke jendela, melihat pesawat Himalaya

Kathmandu menyambutku dengan wajah lamanya, nyaris tak berubah sedikit pun sejak terakhir kali aku ke sini. Jalanan masih dipenuhi debu yang menari bersama angin, klakson kendaraan bersahut-sahutan seperti lagu lama yang tak pernah berhenti diputar, bau dupa menyengat yang mirip seperti di Bali, dan kabel-kabel listrik menggantung seperti sarang burung. Segalanya terasa sama, dan justru dalam kesamaan itulah, aku merasa seperti bertemu teman lama yang tak pernah benar-benar berubah, walau waktu terus melaju. Kathmandu, dengan segala kesemrawutannya, menyuguhkan kejujuran yang langka. Ia tak berusaha terlihat sempurna, tak malu dengan debu, dengan kebisingan, dengan retakan-retakan di dinding-dinding tuanya.

Aku memutuskan untuk tidak naik taksi. Dari Bandara Internasional Tribhuvan, aku melangkahkan kaki menyusuri jalanan Kathmandu menuju sebuah hotel di dekat terminal Naya Bus Park. Aku anggap ini sebagai pemanasan, sebuah awal yang sederhana sebelum perjalanan panjang yang sesungguhnya.

Keesokan harinya, 22 April 2025, pukul 7 pagi, aku melanjutkan perjalanan menuju Pokhara dengan bus antarkota. Tiket bus sudah kupesan sebelumnya lewat pihak hotel, seharga NPR 1800. Nama busnya Open Visit Nepal, salah satu yang menawarkan fasilitas paling mewah. Tapi semewah-mewahnya bus di Nepal, bus di Indonesia tentu masih lebih bagus. Kursinya lumayan empuk, dilengkapi dua colokan USB dan AC yang cukup nyaman. Hanya saja, bus ini tidak memiliki toilet di dalamnya. Penumpang disediakan waktu istirahat di beberapa titik. Bus berhenti tiga kali sekitar pukul 8, 10, dan 13:30.

Tiba di Pokhara pukul 3 sore. Tanpa banyak menunda, aku langsung menuju kantor Nepal Tourism Board. Berjalan kaki dari terminal bus Pokhara untuk mengurus permit. Prosesnya cukup mudah, hanya perlu mengisi formulir, menyerahkan paspor, dua lembar foto ukuran 4×6, dan membayar NPR 3000. Dengan itu, aku pun menerima selembar dokumen sebagai tiket resmiku memasuki jantung Himalaya, Annapurna Base Camp (ABC).

ABC bukanlah sebuah puncak, melainkan pos pendakian terakhir yang terletak di dalam kawasan Annapurna Sanctuary, tepat di bawah bayang-bayang megah Gunung Annapurna I (8091 mdpl), salah satu dari empat belas puncak tertinggi di dunia. Base Camp ini berada di ketinggian sekitar 4130 meter di atas permukaan laut, menjadikannya tempat berketinggian 4000 meter kedua yang akan aku capai setelah Gunung Kinabalu.

Sebelum kaki melangkah di jalur pendakian, pastikan izin resmi sudah di tangan

Malam hari di Pokhara kumanfaatkan untuk membeli perlengkapan trekking yang sengaja tidak kubawa dari Indonesia. Aku berburu sleeping bag berbahan bulu angsa dengan ketahanan hingga -10°C, karena suhu di Annapurna Base Camp bisa mencapai 0°C, bahkan bisa minus. Sebenarnya aku bisa saja menyewa, tapi aku memilih membeli sendiri karena merasa lebih nyaman dan yakin akan kebersihannya. Juga untuk kupakai jika nanti melakukan pendakian lagi. Entah di mana. Aku juga membeli beberapa pasang kaos kaki tambahan. Saat trekking nanti, aku ingin bisa mengganti kaos kaki setiap hari. Kaos kaki yang bersih dan kering penting untuk mencegah gesekan berlebih yang bisa menyebabkan lecet, sekaligus menjaga kaki tetap hangat dan kering sepanjang perjalanan.

23 April 2025, sekitar pukul 6 pagi, aku check out dari hotel di Pokhara, dan bersiap melanjutkan perjalanan. Perlengkapan trekking sudah rapi dalam tas. Beberapa butir telur rebus dan sebotol air panas yang kupesan dari hotel pun sudah siap. Tinggal uang tunai. Untuk kebutuhan selama di gunung, tentu aku memerlukan uang tunai dalam bentuk rupee Nepal. Sebab, setelah menghitung hasil penukaran USD di bandara, aku sadar jumlahnya tidak akan cukup untuk membiayai seluruh perjalanan. Aku pun memutuskan untuk menarik uang dari ATM.

Sayangnya, tidak banyak ATM di Nepal yang menerima kartu MasterCard BCA milikku. Berdasarkan pengalamanku, hanya ATM dari bank NIMB, NIC ASIA, dan Laxmi Sunrise yang bisa digunakan. Mungkin ada yang lain, hanya saja selain ATM-ATM tersebut kartuku ditolak di ATM bandara dan beberapa titik di Pokhara, meskipun terdapat logo MasterCard.

Meskipun trekking ke Annapurna Base Camp relatif aman, aku tetap menyarankan sebaiknya bawa uang lebih. Tidak ada ATM di sepanjang jalur pendakian. Kita juga tidak pernah tahu apapun bisa terjadi di gunung. Jangan sampai kehabisan uang untuk kebutuhan dasar seperti membeli makanan atau minuman dan sewa penginapan. Uang cadangan bisa sangat berguna dalam keadaan sekadar ingin menambah hari menginap atau mungkin dalam situasi darurat, misalnya saat membutuhkan bantuan orang lain dan perlu memberikan imbalan sebagai bentuk apresiasi.

Dari Pokhara, kota danau yang tenang itu, aku naik taksi menuju Nayapul, sebuah desa kecil yang menjadi pintu gerbang awal perjalananku. Di tengah perjalanan, aku sempat berhenti sejenak untuk membeli selusin pisang, lumayan sebagai bekal untuk hari pertama trekking. Pisang merupakan buah yang sangat tepat untuk dikonsumsi sebelum mendaki. Pisang mengandung karbohidrat kompleks, potasium (kalium), dan gula alami yang mudah dicerna tubuh. Pisang dapat membantu menjaga keseimbangan elektrolit, mencegah kram otot, dan memberikan energi yang stabil tanpa membuat perut terasa berat.

Nayapul, yang berarti “jembatan baru” dalam bahasa Nepali, terletak sekitar 2 jam perjalanan darat dari Pokhara, di distrik Kaski, Nepal. Di sinilah titik awal petualangan menuju pegunungan Himalaya dimulai.

Sungguh aneh. Di sini, di tengah hamparan perbukitan, tempat yang jauh dari rumah justru bisa membuat merasa lebih dekat dengan diri sendiri. Langkah demi langkah, aku mulai berbicara dengan diriku sendiri. Aku biarkan pandangan menyapu lembah hijau yang terbentang di depan. Tak perlu tergesa melangkah. Biarkan waktu berjalan perlahan. Perjalanan ini layak dinikmati.

Selamat datang di Nayapul, langkah pertama menuju mimpi setinggi langit Himalaya.

Pun Danda

Aku mulai berjalan kaki dari Nayapul menuju Birethanti, pos pemeriksaan permit pendakian pertama. Banyak pendaki yang datang naik jeep atau taksi dari Pokhara langsung ke Birethanti, tanpa berjalan kaki dari Nayapul, demi menghemat waktu. Jaraknya dari tempat aku turun di Nayapul ke Birethanti tidak jauh, hanya sekitar 1,5 km.

Aku menyusuri jalur demi jalur, menikmati setiap langkah, dan merasakan utuhnya pengalaman yang ditawarkan perjalanan ini. Hanya saja, jalur dari Nayapul ke Birethanti masih dilalui kendaraan seperti taksi, jeep, motor, dan bus yang mengaduk jalanan dan mengirimkan debu ke udara. Sehingga buff bercorak loreng yang melingkar longgar di leherku, kutarik hingga menutupi separuh wajah. Setidaknya wajahku punya perisai, dan nafasku masih bisa kuselamatkan.

Sesampainya di Birethanti, aku melakukan check-in pendakian. Dokumen izin trekking yang telah kuurus sebelumnya di Nepal Tourism Board, Pokhara, kuserahkan kepada petugas. Ia memeriksanya, dan memberi cap tanda diperbolehkannya melanjutkan perjalanan.

Aku beristirahat sebentar untuk mengambil nafas. Petugas itu, di sela-sela tugasnya memeriksa permit para pendaki, menanyakan rute perjalanan yang akan kutempuh. Aku berencana lewat Ghandruk. Tujuanku adalah Annapurna Base Camp, namun aku juga ingin menikmati momen di Poon Hill terlebih dahulu. Petugas memberi saran kepadaku bahwa jalur menuju ABC melalui Poon Hill akan lebih efisien jika dimulai dari Birethanti, lewat Tikhedhunga, lalu mendaki ke Ulleri, terus ke Ghorepani, kemudian naik ke Poon Hill, dan lanjut ke ABC lewat Tadapani. Sementara jika tetap melalui Ghandruk, jalurnya akan berputar lebih jauh, dan juga akan melewati jalur yang sama di Tadapani ketika menuju ABC. Aku ingat, sebenarnya, sopir taksi yang kutumpangi dari Pokhara ke Nayapul juga memberi saran yang sama.

Aku pun akhirnya mempertimbangkan ulang perjalananku. Untuk menuju Poon Hill, jalur melalui Ulleri memang lebih tepat. Nanti lewat Ghandruk pas turun saja. Jadi jalur yang aku lewati berbeda saat pulang.

Seorang pendaki mendengar percakapanku dengan petugas, dan ia berkata kepadaku kalau ia juga akan lewat Ulleri. Salah seorang guide yang memandu pendaki-pendaki Eropa juga ikut nimbrung pembicaraan, dan menyarankan hal yang sama. Rupanya memang jalur ini banyak dipilih para pendaki.

Tidak semua saran harus diikuti, tapi setiap saran layak didengarkan. Saran adalah benih, dan tugasku adalah memilih mana yang akan ditanam dan mana yang sebaiknya disimpan atau dibuang. Aku tidak masalah mengubah rute. Kelebihan dari solo trekking adalah kebebasan penuh untuk menentukan langkah. Rute searah jarum jam (clockwise) adalah rute terbaik karena aku menginginkan pendakian ke Poon Hill juga. Kecuali kalau tujuanku hanya ABC, dan aku menginginkan rute tercepat, maka lewat Ghandruk adalah pilihan yang tepat. Terkadang, satu kalimat dari orang yang tepat bisa mengubah seluruh arah perjalanan. Dalam kesendirian ini, setiap keputusan adalah milikku. Dan ya, aku pun memutuskan untuk lewat Ulleri.

Di Birethanti inilah pendakian mulai benar-benar terasa, karena jalur mulai menanjak dengan anak-anak tangga batu. Apalagi aku berjalan dengan beban di punggung yang tidak ringan, sekitar 16 kilogram. Makanan, air, dan sleeping bag adalah beban tambahan yang harus kubawa. Tapi perjalanan ini bukan hanya soal fisik. Perjalanan ke Poon Hill ini juga berarti menepati janji lama kepada diriku sendiri sejak 2016 silam. Saat itu aku pernah ambil cuti untuk liburan ke Nepal, dan berencana mendaki Poon Hill. Tetapi karena satu dan lain hal, aku hanya bisa menapaki Kathmandu dan Pokhara.

Debu di jalur ini seolah menyambutku, seakan mengingatkan bahwa janji lama itu kini sedang kujalani. Buff yang kusematkan di leher, lagi-lagi, harus kupasangkan sampai hidung karena jalanan dari Birethanti menuju Tikhedhunga banyak debu. Sering terlihat jeep lalu-lalang berlomba dengan waktu. Tak jarang aku harus menepi, memberi ruang bagi jeep-jeep yang melintas.

Di tengah langkah dan lelah, aku duduk di tepian jalan setapak, menyatu dengan sunyi dan desir angin pegunungan. Dua pendaki melintas, menyapaku dengan senyum hangat, yang satu dari Jerman, satunya lagi orang lokal, sang pemandu jalan. “Namaste”, ucap mereka. Kami bertukar kata seperlunya, tapi cukup untuk membuka jendela kisah. Dalam momen seperti itu, hatiku terdorong untuk menyuarakan kebanggaan akan negeriku tercinta. Kuceritakan tentang bagaimana eloknya Indonesia, dan tentang Bali yang memesona. Aku ingin dunia tahu bahwa Indonesia memiliki pesona yang tak pernah habis untuk diceritakan.

Perjalanan berlanjut. Aku melewati sebuah jembatan kecil, lalu kembali menanjak di jalur bertangga. Di tengah jalan, aku kembali berhenti dan sempat berbincang dengan beberapa penduduk lokal. Mereka mengira aku orang Nepal. Bahkan, ada yang mengira aku seorang tentara. Hahaha. Mungkin karena potongan rambutku yang cepak, ditambah rompi dan tas hijau army bergaya militer yang aku kenakan. Padahal aku cuma suka tampil dengan gaya militeran.

Akhirnya, aku melewati desa yang indah di rute trekking Annapurna yang berada di Distrik Myagdi, wilayah barat Nepal, yaitu Tikhedhunga. Setelah Tikhedhunga jalanan berubah menjadi tangga batu yang seperti tak berujung dan banyak “ranjau” yang memenuhi anak tangga, yaitu jejak-jejak kotoran kuda dan bagal (persilangan antara kuda jantan dan keledai betina). Di setiap pijakan, aku harus berhati-hati karena terjalnya tanjakan menuju Ulleri, dan langkah pun harus sigap menghindar dari ranjau organik. Cukup melelahkan, tapi itulah bagian dari perjalanan yang membuat setiap langkah berarti.

Sore hari aku tiba di Ulleri. Lelah, kotor, dan penuh peluh. Langkahku langsung terarah mencari tea house, yaitu penginapan sederhana milik warga lokal, tempat para pendaki bisa bermalam dan makan. Tubuh ini butuh istirahat setelah berjam-jam mendaki tangga batu yang seolah tak pernah habis. Aku memilih tea house yang agak jauh dari papan “Welcome to Ulleri”. Setelah berjalan cukup jauh, aku akhirnya mendapat penginapan seharga NPR 500. Tempatnya cukup nyaman, tidak terlalu sempit sehingga masih bisa untuk jadi tempat sholat. Di Ulleri, seperti juga di banyak desa sepanjang jalur pendakian, tidak ada masjid atau musholla. Mayoritas penduduknya adalah orang Magar dan Gurung, yang umumnya beragama Hindu atau Buddha. Jadi, sholat pun kulakukan di tempatku bermalam.

24 April 2025, sehabis sarapan, aku berangkat pukul 9 pagi dari Ulleri ke Ghorepani. Waktu tempuh trekking normalnya sekitar 4-6 jam. Aku sampai di Ghorepani sekitar pukul 13:30 siang. Trek dari Ulleri ke Ghorepani memang lebih ringan dibanding rute Birethanti ke Ulleri, sehingga bisa cepat sampai.

Ghorepani (Ghodepani) menjadi salah satu persinggahan utama dalam jalur trekking menuju Poon Hill dan Annapurna. Di sini ada pos pemeriksaan permit lagi, dan aku menginap di tea house yang tidak jauh dari pos tersebut. Sore itu kuhabiskan untuk beristirahat dan menyimpan tenaga, sebab esok hari akan jadi salah satu momen yang paling kunanti selama perjalanan ini.

Ghorepani, tempat persinggahan para pendaki sebelum mengejar matahari terbit di Poon Hill

25 April 2025, di waktu subuh yang masih menggantung di langit, aku menerobos sang fajar. Dalam dinginnya pagi itu, terdengar lolongan anjing di lereng bukit. Aku spontan mengambil sepotong kayu yang akan kugunakan sebagai trekking pole, sekaligus senjata darurat bila keadaan memaksa.

Saat langit mulai merekah dan cahaya pagi perlahan menyapu gelap malam, aku berlari menyongsong mentari, menjemput impian lama yang nyaris menjadi nyata. Tak kusangka, ada loket tiket di tengah jalan setapak menuju puncak. Tarifnya tak seberapa, hanya NPR 150, tapi aku tidak bawa dompet. Sudah lebih dari separuh jalan kudaki, ya masak harus turun lagi. Aku bicara pada petugas, akhirnya ada kesepakatan untuk dibayar nanti bersamaan saat check-out dari tea house tempatku menginap. Kusebutkan nama penginapanku, lengkap dengan nomor kamar. Aku kembali melangkah. Lega, meski kurang nyaman di hati.

Aku kembali berlari. Aku tak mau kehilangan momen penting. Mentari segera terbit. Ketika nafas mulai tersengal dan langkah terasa berat, aku bertemu lagi dengan pendaki Jerman dan pemandunya, yang kutemui sebelumnya saat di Birethanti. Mereka dalam perjalanan turun, padahal mentari belum nampak. Mereka melihatku dalam keadaan ngos-ngosan. Aku seharusnya mengawali pendakian sejak sebelum subuh agar tidak terburu-buru melihat sunrise. Tapi tak mengapa, kupilih berangkat sehabis sholat subuh agar lebih tenang.

Pendaki Jerman itu mau memberiku uang setelah kuceritakan bahwa aku belum bayar tiket. Tapi kutolak karena sebelumnya sudah kuberitahu petugas bahwa aku akan membayar tiket itu nanti, bersamaan saat check-out dari tea house. Kami pun mengakhiri pembicaraan, lalu aku kembali berlari melanjutkan pendakian. Aku tidak mau ketinggalan jauh menyambut mentari.

Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu.

Kemudian, segala penantian dan perjuangan itu akhirnya terbayar. Aku sampai di puncak Poon Hill. Di sana sudah ramai para pendaki yang berkumpul menanti sang mentari muncul. Pandanganku langsung tertuju pada sebuah menara pandang (viewpoint tower) di tengah area terbuka, yaitu Poon Hill Memorial View Tower. Aku melangkah ke arahnya. Menara ini dibangun untuk mengenang Maj Tek Bahadur Pun, seorang tokoh lokal yang dianggap sebagai pelopor dibukanya Poon Hill sebagai destinasi trekking. Tingginya mungkin sekitar 10 meter dari permukaan tanah hingga ke platform atas. Di sana para pendaki bisa menikmati pemandangan 360° panorama pegunungan Himalaya yang memukau.

Aku tepat waktu. Menyambut mentari yang perlahan merekah dari ufuk timur. Sang mentari perlahan menampakkan wajahnya dari balik pegunungan Himalaya.

Kita harus berani menembus gelap dan dingin untuk melihat cahaya seindah ini.

Poon Hill, atau secara lokal dikenal sebagai Pun Danda, berada di ketinggian 3210 mdpl, sedikit lebih tinggi dari Gunung Merbabu di Indonesia yang tingginya 3145 meter. Di Indonesia, ketinggian seperti itu sudah cukup untuk disebut gunung. Tapi di sini, di Nepal, tempat-tempat setinggi itu masih dianggap bukit.

Aku tidak tahu pasti berapa derajat Celcius suhu di sini, karena smartwatch yang kupakai tidak terlalu akurat dalam membaca temperatur. Tapi yang jelas, udara cukup dingin. Meski begitu, tubuhku masih bisa menyesuaikan dengan baik, mungkin karena tadi sempat berlari-lari kecil saat menanjak, jadi tubuh masih terasa hangat. Dingin yang menusuk itu justru terasa menyegarkan.

Aku tak ingin buru-buru meninggalkan puncak. Aku menikmati suasana yang lebih tenang, momen langka setelah riuhnya pagi. Aku juga menyempatkan diri berbincang dengan beberapa pendaki lain, saling bertukar cerita dan kesan. Rasanya hangat, meski udara tetap dingin. Di ketinggian ini, obrolan sederhana pun terasa lebih bermakna.

Perjalanan mandiri ini bukan sekadar langkah kaki menuju Poon Hill, tapi juga langkah batin menuju diri sendiri. Sebuah perjalanan sunyi yang juga untuk menebus keinginan terpendam di masa lalu, yang kini akhirnya terwujud.

Melawan diri yang dulu, bertarung dengan keinginan-keinginan masa muda, memang tidak mudah. Tapi aku telah menjalaninya dengan keyakinan dalam hati. Meskipun pada akhirnya kusadari, aku tak perlu melawan diriku yang dulu. Aku hanya perlu berdamai dengannya, memahami, memeluk, dan memaafkan diriku yang lama. Sebab aku layak untuk tumbuh, meski sempat runtuh. Aku pernah merasa hidup ini begitu berat. Tapi kemudian kusadari, seperti pendakianku kali ini, beratnya langkah justru menandakan bahwa aku sedang menanjak ke atas, menuju tempat yang lebih tinggi.

Kehidupan ini adalah tentang mendaki, tentang mencapai satu puncak kesuksesan, lalu mendaki lagi ke puncak kesuksesan berikutnya. Poon Hill bukanlah akhir dari perjalanan ini. Ia hanyalah satu dari sekian banyak puncak yang ingin kucapai. Meski belum benar-benar usai, aku telah menerima hadiah perjalanan ini dengan rasa syukur yang dalam, menikmatinya, dan pasti akan mengenangnya di kemudian hari.

Bersambung…

Bali, 9 Juli 2025

Don't Miss