Perjalanan Mandiri Menembus Jantung Himalaya – Bagian II: ABC

Setiap orang punya waktu dan ujiannya sendiri.
15 December 2025
by

Misi pertama akhirnya selesai. Poon Hill, tempat yang dulu hanya hidup dalam mimpi, kini benar-benar kujejak dengan langkahku sendiri. Sekecil apapun, seremeh apapun mimpi itu, nyatanya tak pernah benar-benar mati, hanya pingsan, dan siuman saat usia telah berdiri di tepi lengkung waktu, dalam wujud sedikit penyesalan yang diam-diam menusuk hati dan bertanya lirih, “Kenapa baru sekarang?”.

Momen seperti ini memang waktu yang tepat untuk aku berbicara dengan diriku sendiri, kadang dengan masa laluku, kadang dengan bayangan masa depan. Dalam perjalanan sendirian di pegunungan, pikiran-pikiran random memang sering muncul. Gunung yang sunyi membuat suara hati terdengar lebih jelas. Rasa takut, penyesalan, juga harapan, semuanya berdesakan ingin didengar. Iya juga, kenapa baru sekarang?

Segala sesuatu punya waktunya sendiri. Tugasku hanya sampai pada waktuku.

Dalam pikiranku, mungkin aku mampu jauh lebih awal jika dulu lebih berani melangkah, tanpa menunda-nunda. Namun, perlahan aku belajar, ternyata penundaan itu bukan semata kelemahanku. Ada kehendak Allah yang lebih besar dari sekadar keinginanku. Mungkin Dia menahanku di tepi jalan agar ketika akhirnya aku melangkah, langkah itu lebih matang, lebih yakin, dan lebih siap menanggung segala resikonya.

Katanya, timeline setiap orang itu berbeda-beda. Masing-masing punya musimnya sendiri. Matahari tidak terbit serentak di seluruh dunia, tapi tak ada satu pun tempat yang luput dari sinarnya. Begitu pun hidup, setiap orang punya waktunya sendiri. Dan aku tahu, bukan waktunya yang patut kusalahkan. Aku salah jika telah membiarkan ketakutan tak kunjung dihadapi, memberi ruang bagi keraguan untuk tumbuh, dan menunda keberanian yang seharusnya segera kukumpulkan.

Ahh… Tahu tidak, rasa penyesalan karena tidak berani melakukan sesuatu di masa lalu adalah salah satu ujian batin yang berat. Penyesalan itu muncul karena aku ingin memutar waktu, dan berada di sana di kondisi sekarang. Padahal, yang bisa kuubah hanyalah caraku memaknai peristiwa itu, bukan mengubah peristiwanya. Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Waktu tak akan berputar ke belakang hanya karena aku menyesal. Tapi aku bisa mengubah caraku menatap masa lalu, dengan kacamata yang berbeda. Dulu aku melihatnya sebagai kelemahan, sekarang aku memilih melihatnya sebagai pelajaran. Dulu terasa seperti beban, sekarang kutahu itu adalah cara Allah mendidik hatiku.

Melangkah di jalur Annapurna saat masih muda, ketika tenaga masih penuh dan semangat begitu membara, akan terasa jauh berbeda dibandingkan jika dilakukan di usia senja.

Aku memang pernah tidak berani, tapi menurutku itu wajar. Aku yakin itu bagian dari ketetapan-Nya agar aku tumbuh dengan cara yang lain. Segala sesuatu terjadi dengan izin-Nya. Kalau saja aku dipaksa melangkah sebelum waktunya, mungkin aku hanya akan terjatuh karena belum siap menanggungnya. Maka aku belajar bahwa keterlambatan bukan selalu kekalahan, kadang ia adalah bentuk kasih sayang yang tak kusadari. Dan kini aku tahu, penundaan itu bukan akhir dari cerita. Ia hanya halaman yang disiapkan Allah, agar aku membaca hidup ini dengan tempo yang lebih bijak, dan menulis kelanjutannya dengan hati yang lebih berani.

Menjaga mimpi itu juga perjuangan.

Untuk diriku yang lebih muda, terima kasih sudah menjaga mimpi ini dan bertahan sejauh ini. Bagaimanapun, waktumu sudah datang. Dan terlepas dari rasa sesal apapun itu, bersyukurlah karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki, melanjutkan, dan menebus apa yang pernah tertunda. Rasa syukur adalah kekayaan yang tak bisa dibeli, dan tak semua orang memilikinya.

Melewati Desa Terakhir

Setelah puas menikmati suasana di puncak Poon Hill, dengan nafas yang tenang dan hati yang lapang, aku melangkah menuruni lereng, sambil merasakan setiap jejak kaki mengurai sisa letih menjadi rasa syukur, kembali ke tea house di Ghorepani untuk persiapan perjalanan berikutnya.

Elang tak hidup di puncak. Ia hanya singgah, lalu terbang menuju tujuan berikutnya.

Dalam perjalanan turun dari puncak Poon Hill, aku baru teringat, ternyata aku membawa paspor. Dan di dalam dompet paspor yang tersembunyi di saku rompiku, aku sempat selipkan beberapa lembar uang rupee Nepal. Sebelumnya, saat perjalanan naik bukit aku belum membayar tiket. Menyadari kalau tadinya dompet uangku tertinggal di kamar, aku bilang ke petugas bahwa akan kubayar nanti saat check-out. Nomor kamar pun sudah kucatatkan, sebagai penanda kalau aku bukan pelancong nakal yang kabur dari kewajiban. Dan sekarang ternyata ada uang di dompet paspor. Begitu tiba di loket tiket, aku langsung membayarnya. Apa yang kubutuhkan ternyata sudah diam-diam ikut bersamaku sejak awal. Kesadaran kecil itu membuat pagi terasa begitu ringan.

Kesungguhan pagi menentukan kualitas hasil sore.

Usai sarapan, perjalanan pun berlanjut. Kali ini langkahku menuju Tadapani, desa tersembunyi di balik perbukitan Kaski, Provinsi Gandaki, Nepal, di lereng bukit yang dikelilingi kabut, di tengah hutan rhododendron. Tadapani terletak pada ketinggian sekitar 2.630 mdpl. Nama “Tadapani” sendiri berarti “air yang jauh” dalam bahasa Nepali, sebuah kenangan akan masa ketika penduduk harus berjalan jauh demi setetes kehidupan.

Naik lagi? Iya. Pelan-pelan saja.

Siapa pun yang pernah mendaki gunung tahu, air itu “suci”. Jadi kalau di perkotaan ada orang yang masih sering buang-buang air mineral, mungkin mereka belum pernah merasakan kehausan di gunung. Iya, naik gunung bikin sadar, betapa berharganya air. Di kota, orang dengan gampangnya buang sisa minuman, padahal di atas sana, seteguk air bisa terasa seperti hadiah dari langit.

Jalur menuju Tadapani dibuka dengan jalan sempit dan sunyi. Perjalanan ke Tadapani memakan waktu sekitar 5–6 jam trekking melewati hutan rhododendron, bunga nasional Nepal. Aku beruntung, datang ke Nepal di waktu yang tepat, di bulan April, pas musim semi, saat bunga-bunga rhododendron itu bermekaran. Jalur yang sunyi itu mengantarkanku ke puncak Thapla Danda, bukit berketinggian 3.165 mdpl. Sayangnya, cuaca pagi itu tidak cukup cerah untuk membuat puncak-puncak megah di barisan Annapurna terlihat, hanya tampak samar di kejauhan.

Proses menaiki tangga Thapla Danda sering kali terlihat berat saat dijalani, dan tampak sederhana ketika sudah dilewati.

Tak lama setelah berjalan dari Thapla Danda menuju ke arah Tadapani, aku tiba di puncak berikutnya, Banthanti Hill, yang berada di ketinggian sekitar 2.660 mdpl. Tepatnya di kawasan Upper Banthanti, di jalur yang menghubungkan Ghorepani dan Tadapani. Tempat yang pas untuk beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan.

Satu demi satu puncak-puncak bukit terlewati. Jalur trekking kemudian masuk ke dalam hutan lebat yang tenang dan rimbun, didominasi turunan dengan sedikit tanjakan pendek. Melelahkan. Tentu. Jika cukup istirahat, semua pasti pulih lagi. Tubuh berbicara apa adanya. Aku butuh jeda. Aku berhak istirahat, tanpa perlu merasa bersalah. Ini bukan soal kuat atau tidak kuat, tapi soal menerima bahwa lelah itu manusiawi.

Aku pun sampai di Tadapani. Seharian berjalan kaki menembus hutan dan lembah cukup menguras tenaga. Saatnya menenangkan raga dengan bermalam di Tadapani sebelum melanjutkan perjalanan keesokan paginya.

Saat berada di tea house, aku memanfaatkan waktu untuk ibadah, mandi, makan, dan mengisi daya power bank, ponsel pintar, kamera, dan laptop mini. Meskipun berada di pegunungan, alhamdulillah masih bisa terhubung ke internet, sehingga aku tetap bisa memberi kabar.

Masih jauh ya? Ah, entar juga sampai.

Sabtu pagi, 26 April 2025, aku melanjutkan perjalanan ke arah Chhomrong yang merupakan salah satu pemberhentian utama dalam rute trekking ke ABC. Chhomrong adalah desa terakhir yang cukup besar sebelum medan menjadi lebih liar dan terpencil, terletak di ketinggian sekitar 2.170 mdpl di kawasan distrik Kaski, Nepal. Desa ini dibangun bertingkat di lereng bukit, dengan banyak tea house dan kebun-kebun kecil yang tersebar di sepanjang jalan batu.

Di Chhomrong, orang-orang hidup dari apa yang mereka tanam. Mereka bertani untuk makan. Bukan untuk pasar besar, bukan untuk keuntungan, tapi untuk memastikan dapur tetap menyala dan keluarga tidak kekurangan. Jika ada sisa, barulah dijual.

Porter dengan barang bawaannya.

Namun tentu saja, denyut rezeki lain Chhomrong datang dari para pendaki. Tea house bukan sekadar tempat singgah, melainkan sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga. Saat musim trekking ramai, desa ini hidup lebih hangat. Dapur bekerja tanpa henti, kamar-kamar terisi, dan langkah porter serta guide mengalir di jalur batu.

Sampai atau tidak, tetap dalam izin-Nya.

Ketika dalam perjalanan, aku bertemu dengan seorang pemandu beserta pendaki Eropa. Kami beristirahat sejenak. Mereka duduk, akupun ikut duduk. Tapi baru mau duduk, si pemandu itu sontak teriak dan melarangku duduk di dekat suatu tanaman. Ia menjelaskan bahwa kalau kulitku terkena tanaman tersebut maka akan gatal-gatal dan melenthung.

Namanya nettle. Di Indonesia biasa disebut jelatang. Rambut-rambut halus di permukaan tanaman ini seperti jarum suntik mikroskopis. Saat menyentuh kulit, ujungnya patah dan menyuntikkan zat kimia yang menyebabkan iritasi, gatal, dan sensasi terbakar.

Ia juga menjelaskan, anehnya, tanaman ini sebenarnya bisa dimakan. Setelah dimasak, racunnya hilang. Biasa digunakan untuk obat tradisional. Tapi ya itu, harus hati-hati saat memetiknya.

Hal yang terlihat tidak menyenangkan bisa punya nilai tersembunyi.

Di tengah perjalanan menuju Chhomrong, ada dua jalur yang aku sempat ragu. Ke arah kiri terlihat lebih lebar, menanjak, dan sepertinya jalur utama, yang sebelah kanan turun melewati jalur sempit. Aku pilih yang kiri, meskipun ragu-ragu. Jalurnya lumayan menanjak dan aku tidak bertemu pendaki satupun. Aku menolah-noleh, dan sampai akhirnya melihat ke arah belakang, terlihat pendaki Italia bersama pemandunya yang aku temui saat istirahat, memilih jalan yang kanan. Weh, alaaamak, saat itu aku balik lagi, sambil bertanya-tanya, kenapa Si Italia lewat kanan, aku takut salah jalan, apa aku tadi salah baca papan. Pas sampai di persimpangan, aku memutuskan untuk balik lagi ke rute yang aku pilih sebelumnya sebelah kiri. Aku memilih untuk tak ambil pusing dan lanjut menanjak lagi.

Hidup terasa berat karena selama ini kamu menjalaninya tanpa panduan yang benar. :))

Jalur yang aku lalui, entahlah, sepertinya berbeda dengan yang dipilih pendaki kebanyakan, aku melewati sekolah menengah bernama “Shree Dhaulashree Secondary School”. Ketika aku duduk istirahat, eh ada juga pendaki lewat dan menyapaku, ia mengira aku seorang porter. Kadang aku merasa jadi bayangan yang akrab di negeri asing ini. Terlalu sering aku harus menjelaskan, “Aku bukan orang Nepal,” meski wajah dan warna kulit coklatku sangat mirip orang lokal sini. Pendaki di hadapanku itu ternyata dari Kanada, ia melakukan solo trekking juga sama sepertiku. Sempat ragu dan mengira telah tersesat, aku bertanya padanya arah tujuan, padahal itu juga pertama kalinya ia ke sini, tapi ia meyakinkanku bahwa jalur ini memang tidak salah.

Rhododendron, bunga nasional Nepal, banyak tumbuh liar di jalur-jalur trekking Himalaya dan biasanya mekar pada musim semi, antara Maret hingga Mei.

Kami berjalan bersama, dan akhirnya tiba di sebuah persimpangan tea house yang cukup ramai, dipenuhi para pendaki dan warga lokal. Aku sempat bertanya kepada salah satu dari mereka, berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Sinuwa. Katanya, sekitar satu hingga satu setengah jam. Karena hari belum sore, aku pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, sementara Si Kanada memutuskan menginap di Chhomrong.

Setiap izin, setiap aturan, adalah batasan yang harus dihormati.

Aku pun mulai menuruni jalur. Tak lama kemudian, tiba di sebuah pos pengecekan permit. Petugas di sana mengingatkan bahwa saat turun dari ABC nanti, aku harus kembali melapor. Aku iyakan saja. Saat sedang menunggu petugas, aku menyapa seorang pendaki yang rupanya asal Malaysia, ditemani pemandunya. Ia dalam perjalanan turun dari ABC, dan sempat bilang bahwa di ABC udaranya “sejuk sangat” (dingin sekali), jadi sebaiknya jangan membasahi rambut saat mandi. Aku iya-iya-in saja.

Laki-laki yang punya tujuan, tidak boleh kalah oleh rasa takut.

Jalur dari Chhomrong menuju Sinuwa dipenuhi tangga-tangga batu yang panjang dan curam, sangat menguji lutut dan kesabaran. Untuk sampai di Sinuwa, aku harus melewati jembatan panjang yang menghubungkan dua bukit, meninggalkan Chhomrong sebagai desa pemukiman terakhir di jalur trekking menuju ABC, dan memasuki Sinuwa, wilayah yang lebih terpencil yang merupakan area lodge dan teahouse yang hanya dihuni saat musim trekking.

Aku datang mendaki. Mereka hidup mendaki.

Malam itu, aku menginap di sebuah tea house dengan tarif NPR 800 untuk satu kamar satu orang, lebih mahal dibandingkan penginapan sebelumnya. Memang, semakin dekat ke ABC, harga penginapan cenderung naik. Makanan juga. Bahkan, untuk mandi air hangat pun dikenakan biaya tambahan. Penggunaan Wi-Fi juga tidak gratis, tapi aku masih mendapatkan sinyal seluler, jadi tidak perlu mengandalkan Wi-Fi dari tea house.

Sembari menikmati makan malam, aku berbincang akrab dengan para pemandu lokal. Obrolan kecil di sudut malam itu menyimpan makna yang lebih panjang dari perjalanan itu sendiri. Orang-orang sederhana di Nepal membawa pelajaran yang tak pernah diajarkan dunia modern bahwa manusia sering kali tidak kekurangan apa-apa, hanya terlalu penuh oleh keinginan yang tidak perlu.

Tidurlah dengan nyenyak, esok menanti petualangan baru.

Terpeleset di Himalaya

Minggu, 27 April 2025, sekitar pukul 9 pagi, aku mulai melangkah setelah air panas untuk perbekalan trekking yang kupesan sudah siap. Perjalanan kali ini naik turun melewati hutan bambu dan rhododendron yang lebat.

Dulu banyak masalah , tapi selesai juga.

Di tengah perjalanan, dari kejauhan aku melihat rombongan pendaki yang bernyanyi-nyanyi riang dan tertawa gembira. Mereka turun mendekat ke arahku, sementara aku terus naik, mendekat ke arah mereka. Semakin dekat, semakin jelas. Benar saja dugaanku, mereka dari Indonesia. Ketika aku menyapa mereka dengan bahasa Indonesia, mereka loncat kegirangan. Tadinya mereka mengira aku bukan dari Indonesia. Mukaku memang sudah me-Nepal, eh, melokal. Apalah. Intinya mirip orang Nepal. Hehehe.

Kami ngobrol seperlunya. Tentu senang bisa ketemu sesama pendaki Indonesia di negeri lain. Beberapa kali aku berpapasan dengan orang Indonesia. Mereka ternyata satu rombongan open trip dengan yang kutemui di awal. Mereka sampai tidak percaya aku berbicara bahasa Indonesia kepada mereka. Menanyakan apakah aku benar-benar orang Indonesia. Heran karena aku berbicara bahasa Indonesia dengan sangat fasih kepada mereka. Yah, tentu saja! Hahaha.

Istirahat… nafasku juga butuh dihargai.

Singkatnya, aku sampai di Dovan dan memutuskan istirahat dan menghabiskan malam di sana. Bagiku, sepanjang perjalanan tantangan terbesarnya bukanlah medan, tapi hawa dingin, apalagi ditambah kehujanan saat perjalanan. Alhamdulillah aku membawa banyak coklat. Di suhu rendah seperti ini, tubuh membakar kalori jauh lebih cepat, dan butuh kombinasi gula sebagai energi instan serta lemak sebagai energi lambat untuk mempertahankan panas. Kalori dari lemak itulah yang membantu mencegah hipotermia.

Senin pagi, 28 April 2025, aku melanjutkan perjalanan menuju Himalaya, yaitu area lodge setelah Dovan. Himalaya terletak di ketinggian 2.920 mdpl, di antara Dovan dan Deurali. Area ini berada di lembah sungai yang sempit, diapit dinding tebing besar dan hutan. Trek dari Dovan ke Himalaya banyak melewati hutan, jembatan kayu, dan sungai kecil. Udara mulai jauh lebih dingin. Brrr.

Momen yang paling aku ingat di Himalaya pada ketinggian 3.000-an mdpl adalah ketika aku “terpeleset” di trek miring bersalju. Aku bersyukur tidak sampai meluncur turun. Aku reflek menjaga keseimbangan tubuh. Tangan sigap menopang dan trekking pole-ku yang dari bambu itu pun menahan. Seorang pendaki memang tidak perlu takut melangkah. Seekor elang yang bertengger di ranting pohon, ia tidak pernah takut ranting itu patah, karena kepercayaannya bukan pada ranting, melainkan pada sayapnya. Pun demikian pendaki, ia percaya pada langkah kakinya, bukan pada tanah di bawahnya. Namun, tentu tetap harus siap menghadapi hal-hal tak terduga.

Kalau Allah bisa membelah laut untuk Musa, masalah kita tidak seberapa!

Selanjutnya, sesampainya di Deurali dan melanjutkan perjalanan menuju Machapuchare Base Camp (MBC), aku menghadapi ujian terberat selama pendakian. Aku harus berjuang melawan angin kencang, hujan deras, kabut tebal, dan jalur yang licin. Setiap kali mengingat momen itu, aku selalu merasa sangat bersyukur karena Allah menyelamatkanku. Situasi seperti itu membuatku sangat menghargai hidup.

Aku benar-benar bersyukur. Saat hujan mulai menggila, derasnya semakin menampar kulit seperti jarum es, aku sudah cukup dekat dengan penginapan di MBC. Jalur di depanku perlahan berubah menjadi jalur salju. Beberapa kali aku terpeleset. Satu-satunya pikiran yang menuntunku hanyalah bagaimana caranya cepat sampai. Dinginnya terasa tidak masuk akal, seolah udara pun menolak untuk dihirup.

Nabi Musa tidak pernah tahu… kalau laut di depannya bisa terbelah. Percayalah, mudah bagi Allah untuk menolongmu, bahkan tanpa kamu tahu bagaimana caranya.

Sesampainya di MBC, setelah membersihkan diri, beribadah, dan makan sedikit untuk memulihkan tenaga, aku langsung masuk ke dalam sleeping bag kuningku yang tahan hingga -10°C. Ternyata itu investasi paling berharga selama pendakian ini, hangatnya seperti pelukan yang menyelamatkan. Ada satu pesan penting bagi siapa pun yang menginap di MBC dan berencana menginap juga di ABC keesokan harinya. Jangan lupa isi penuh daya semua perangkat elektronik, karena di ABC nanti tidak ada charging station. Kalau beruntung mungkin ada satu dua hotel yang menyediakan. Mungkin. Waktu itu sih tidak ada. Tapi tentu, jangan mengemis pada keberuntungan.

Manusia mungkin tidak selalu ada, bahkan orang terdekatmu bisa pergi ketika kamu kesulitan. Tapi Allah… tidak pernah meninggalkanmu.

Pagi berikutnya, 29 April 2025, aku bersiap “muncak” ke ABC. Keluar dari tea house, aku sudah disambut pemandangan Machapuchare, gunung megah yang juga disebut fishtail mountain. Macha dalam bahasa Nepali berarti ikan, puchare artinya ekor. Bentuknya memang seperti ekor ikan.

Trek menuju ABC sudah ramai oleh para pendaki. Jejak mereka membentuk garis hidup yang menanjak perlahan. Di tengah perjalanan, ada sebuah kolam lelehan gletser yang permukaannya tenang, seolah menjadi cermin bagi langit Himalaya.

Ketika kamu merasa ingin menyerah, ingatlah alasan-alasan yang membuatmu bertahan hingga saat ini.

Perjalanan menuju ABC tetap bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng. Treknya menuntut lebih dari sekadar langkah kaki. Ada beban di punggung, udara dingin yang menembus jaket, dan rasa lelah yang merayap perlahan dari betis hingga ke kepala. Di tengah perjalanan, kadang muncul suara-suara yang mencoba menggoyahkan hati. Suara kecil, tapi menusuk seperti gagak yang mengganggu elang di langit.

Elang tak pernah terganggu oleh teriakan gagak. Ia tahu, yang mengejar ketinggian tak perlu menjawab keributan.

Di alam liar, gagak memang kerap mengusik elang. Ia terbang mendekat, mematuk dari belakang, menukik dari atas, memanfaatkan kelincahannya untuk membuat yang kuat tampak terganggu. Namun elang jarang membalas. Ia tidak membuang energinya untuk pertempuran kecil. Cukup naik sedikit, mengubah arah, dan terus terbang sampai gagak kehilangan minat dan pergi. Begitu pula dengan perjalanan ini. Selalu ada gangguan entah dari luar, entah dari dalam diri sendiri. Tapi seperti elang, yang terbaik adalah tetap melangkah, tetap menatap tujuan, dan membiarkan hal-hal kecil jatuh sendiri di belakang.

Jelaskan, apa itu lelah?

Alhamdulillah… Akhirnya, tembus juga di ABC, di jantung Himalaya. Gunung-gunung tertutup kabut tebal saat itu meski hari masih pagi. Aku menghabiskan waktu berbincang dengan beberapa pendaki yang kutemui. Salah satunya dengan pemuda Thailand yang mengenakan jaket merek Sherpa. Kami ngobrol diselingi tawa kecil di tengah dingin yang seakan menusuk tulang. Ia seorang dokter. Ia bercerita, awalnya ingin trekking sendirian, tapi karena ragu dan takut kenapa-kenapa, akhirnya memutuskan menggunakan jasa pemandu.

Capek? Iya. Tapi kapan lagi bisa ngerasain ini?
Selamat datang di rumah para petualang. Kerendahan hati adalah puncak tertinggi manusia.

Keesokan harinya, 30 April 2025, sebelum matahari terbit, aku keluar dari penginapan setelah ibadah dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menikmati suasana pagi di ABC bersama pendaki-pendaki lainnya. Memang benar kata Si Malaysia yang kutemui di Chhomrong, luar biasa dingin ekstrem banget airnya. Mana udaranya juga dinginnya keterlaluan.

Aku menantikan matahari merayap perlahan di punggung Annapurna. Aku menaiki sebuah gundukan tanah untuk menikmati pegunungan Annapurna yang terbentang agung dari tempatku berdiri. Ketinggian itu tidak seberapa, tapi cukup untuk memberi cara pandang yang berbeda. Elang tidak mungkin melihat luas jika ia tidak terbang tinggi.

Ketinggian membuatku melihat dunia dengan mata yang lebih jernih, untuk memperluas wawasanku, memahami, dan menyusun ulang caraku menatap dunia dan menjalani hidup. Ketinggian bukan tempat pamer bagi elang, melainkan posisi untuk menguasai situasi dan melihat mangsa dengan jelas.

Cekrek!

Jalan Pulang

Turun dari ABC justru cuacanya menjadi sangat cerah. Langit biru terbentang tanpa kabut, seolah gunung sengaja memberi perpisahan yang tenang. Langkah kaki terasa lebih ringan, meski tubuh lelah menyimpan sisa dingin malam. Di kejauhan, Annapurna South berdiri diam. Ia tak menghalangi, tak memanggil, hanya menyaksikan aku pergi.

Selamat tinggal, Annapurna South!

Perjalanan pulangku dari ABC terasa lebih sunyi. Aku menuruni bukit-bukit dengan langkah pelan, ditemani hujan yang turun di titik-titik tertentu. MBC, Deurali, dan Himalaya terlewati. Aku pun istirahat sebentar di Dovan untuk makan hari itu, lalu lanjut turun ke Bamboo, dan bermalam di Sinuwa. Perjalanan yang amat panjang, dari ABC turun ke Sinuwa, kisaran 8-9 jam trekking. Maghrib menyambut kedatanganku di Sinuwa, sebelum akhirnya aku merebahkan tubuh di sebuah kamar bawah tanah. Perlu menuruni anak tangga sempit di jalan yang dilewati pendaki. Kamarnya ada 3 tempat tidur, tetapi hanya aku sendiri di sana.

Kamis, 1 Mei 2025, perjalanan turun pun kuteruskan. Ketika memasuki jalur menuju Chhomrong, barulah kusadari bahwa rute yang kulewati berbeda dari saat aku naik. Di sebuah persimpangan kecil aku berhenti.

Tidak semua orang harus memilih jalan yang sama.

Where are you going?“, tanya seorang pria dalam bahasa Inggris dengan aksen Nepal yang kuketahui dia adalah guide bersama satu pendaki Asia yang ia pandu.

“Ghandruk,” jawabku.

Ia menunjukkan arah dengan ramah, lalu berujar bahwa Ghandruk sebenarnya dulu sangat indah, sebelum hotel-hotel bermunculan di mana-mana. Meski ceritanya mengandung sedikit nada kehilangan, aku tetap melanjutkan langkah. Bagaimanapun keadaannya kini, Ghandruk tetap menjadi tujuanku.

Aku kemudian melewati sebuah bukit, dan tanpa kusangka jalurnya tembus kembali ke persimpangan yang pernah kulewati sebelumnya, yaitu ketika aku ragu apakah harus ambil jalur yang ke kiri menanjak atau yang kanan menurun. Dari persimpangan itu, aku terus berjalan menuruni bukit, dan mengambil arah kiri di persimpangan berikutnya. Di sana aku bertemu pendaki India yang juga melakukan solo trekking. Ia mengambil jalur cepat dari Birethanti ke Ghandruk, lalu Chhomrong.

Bebas memilih, bukan berarti bebas dari konsekuensi.

Perjalanan turun dari Chhomrong ke Ghandruk adalah yang sangat challenging bagiku, karena merupakan jalur paling sunyi saat itu. Sendiri. Sepi. Dingin. Licin. Kehujanan. Saat tubuh mulai lelah dan jalur makin sunyi. Pikiran negatif, overthinking medan dan panik karena sendirian adalah hal-hal yang bikin trekking terasa lebih berat dari seharusnya, jadi sebisa mungkin aku menghindarinya.

Berasa di Jawa ya?

Sebelum sampai Ghandruk aku menginap di daerah Kimrong atau Komrong. Entahlah. Aku lupa namanya. Kalau mengingat perjalanan turunku saat itu, jalan sendirian di hutan, aku benar-benar bersyukur. Bukan hanya karena aku mampu melewatinya dengan baik, tetapi karena aku bisa deep talk dengan diriku sendiri, sekaligus melihat diriku yang dulu, yang penuh tanya dan ragu, dan memeluknya dengan pengertian yang baru. Perjalanan selalu memberikan hikmah.

Jumat, 2 Mei 2025. Hari terakhir perjalanan trekking ini. Tidak ada yang mudah, tapi tidak ada yang sia-sia bagi mereka yang memilih untuk tetap berjalan. Mungkin akan banyak yang bilang trek Annapurna Base Camp itu tak terlalu ekstrem, bahwa ini trek untuk siapa saja yang cukup kuat berjalan, cukup sabar mendaki, dan cukup berani bermimpi. Tapi jangan salah. Di sini, gunung selalu punya caranya sendiri untuk mengingatkan, meski risikonya rendah, kematian tak pernah benar-benar absen dari pegunungan, meskipun pendakian dilakukan di musim semi seperti yang kulakukan.

Kau sudah cukup jauh, sekarang pulanglah dengan selamat.

Banyak yang tidak sadar, musim semi di Himalaya itu adalah musim yang menipu. Memang bunga rhododendron mulai bermekaran di lereng, langit biru seperti kanvas tak terganggu. Tapi di balik keindahannya, lapisan salju di ketinggian mulai retak, cair perlahan saat siang, lalu membeku lagi di malam hari. Setiap perubahan suhu menyisakan ketidakpastian dan pada saat yang salah, itu bisa memicu longsoran salju mematikan.

Dari informasi yang aku dapat, pada 24 Maret 2025, sebulan sebelum aku trekking, jalur ABC menunjukkan sisi liarnya. Seorang trekker muda asal Tiongkok, Yi Cheng Yuan, 28 tahun, sedang menuruni jalur dari Annapurna Base Camp menuju Ghandruk melewati jalur melalui Deurali-Chhomrong, karena longsoran salju (avalanche) runtuh dari tebing seperti gelombang putih yang tak bersuara. Ia terpisah dari rombongan, dan sejak saat itu, tak ada lagi kabar.

Keberanian harus berjalan bersama kehati-hatian.

Tiga belas hari pencarian dilakukan dengan harapan yang perlahan menipis. Hingga akhirnya, pada 5 April 2025, tubuhnya ditemukan. Telungkup, tak jauh dari Sungai Modi. Ransel masih melekat di punggungnya, seolah ia hanya jatuh tidur di tengah jalur, tapi tak pernah bangun kembali. Ia tak sempat lari. Mungkin tak sempat merasa takut. Mungkin hanya mendengar deru sesaat sebelum segalanya menghilang. Kematiannya bukan sekadar angka dalam statistik tahunan. Ia adalah pengingat, bahwa di ketinggian seperti itu, kerendahan hati lebih penting dari keberanian. Bahwa tak peduli seberapa cantik musim semi di Himalaya terlihat, kita tetap harus menghormati alam, bukan menantangnya. Jadi, jangan anggap remeh.

Annapurna Base Camp memang bukan “puncak” tertinggi. Tapi ia tetap berdiri di alam yang hidup, bergerak, dan bisa berubah dalam sekejap. Risiko longsor bukan dongeng. Dan setiap langkah di sana, harus selalu disertai kesadaran bahwa keindahan terbesar seringkali datang berdampingan dengan bahaya yang tak terlihat.

Selesaikan pertarunganmu dan pulanglah sebagai juara.

Alhamdulillah aku sampai di Birethanti dengan selamat. Aku menyelesaikan kegiatan solo trekking ini dalam waktu 10 hari. Jalur yang kutempuh membentang sejauh kurang lebih 125 km, melintasi medan yang naik-turun dan menantang. Rutenya dimulai dari Nayapul, lalu berlanjut ke Birethanti, Tikhedhunga, Ulleri, Ghorepani, Poon Hill, Tadapani, Chhomrong, Sinuwa, Bamboo, Dovan, Himalaya, Deurali, MBC, hingga mencapai Annapurna Base Camp (ABC). Rute pulangnya kutempuh melalui jalur yang sebagian berbeda. Dari ABC kembali ke MBC, lalu melewati Deurali, Himalaya, Dovan, Bamboo, Sinuwa, Chhomrong, dan turun menuju Ghandruk hingga akhirnya tiba kembali di Birethanti.

Kembali dengan selamat adalah bentuk kemenangan yang membuat hati tenang.

Aku yakin ini masih dalam rentang normal. Setiap hari aku jalan. Tidak ada rest day. Durasi trekking rata-rata 6–7 jam per hari. Dengan rute yang sama seperti yang kuambil, mungkin pendaki lain bisa menyelesaikannya lebih cepat, bahkan kurang dari 10 hari. Sangat mungkin, asal cukup disiplin saat memulai pendakian sepagi mungkin, dan bersedia trekking dengan durasi yang lebih panjang setiap harinya.

Aku tidak peduli siapa yang melakukan lebih baik dariku.

Dari perjalanan ini, nasihat terbaik yang bisa aku berikan bagi siapapun yang ingin solo trekking ke ABC adalah selalu perbanyaklah berdoa dan berdzikir, mengingat Yang Maha Pemberi Petunjuk. Sebab bukan hanya jalan yang butuh petunjuk, tapi juga jiwa yang tak ingin tersesat. Jalur menuju ABC sebenarnya cukup jelas. Sepanjang perjalanan, banyak ditemukan papan petunjuk arah di persimpangan. Kalaupun ragu, tidak perlu sungkan bertanya. Atau, ikuti saja pendaki di depan kalau ada. Namun, terkadang apa yang menjadi cahaya bagi satu orang, bisa jadi bayangan bagi yang lain. Berhasil bagiku, belum tentu berhasil bagi lainnya. Kalau masih ragu, jangan paksakan. Menggunakan pemandu bukan sesuatu yang memalukan dan bukan tanda lemah. Itu tanda paham batas diri. Trekking seharusnya dinikmati, bukan dipertaruhkan. Gunung tidak menilai keberanian. Ia hanya menilai kesiapan.

Berhentilah bersandar pada manusia. Bersandarlah pada Dia, Rabb semesta alam, yang membelah lautan untuk Musa, mendinginkan api untuk Ibrahim, dan pasti bisa membuka jalan untukmu.

Untuk mempercepat pencapaian atau kesuksesan, sering kali kita memang butuh seorang pemandu. Tanpa arahan, kita bisa saja kebingungan, tersesat, dan membuang waktu pada hal-hal yang sebenarnya bisa dihindari. Seorang pemandu akan menunjukkan jalan pintas, atau setidaknya menghindarkan kita dari jalur yang memutar. Keuntungan lainnya, ada teman ngobrol, yang mungkin saja akan dapat cerita-cerita lokal yang tidak ada di internet.

Berbeda jika memang sudah yakin, pergilah naik gunung sendiri, karena dalam kesendirian itulah kamu belajar memahami dunia, dan dirimu sendiri. Biasanya dalam tim, tupoksi (tugas pokok dan fungsi) itu dibagi-bagi. Tapi saat trekking sendirian, semuanya otomatis menjadi tanggung jawab diri sendiri, mulai dari navigasi, logistik, hingga menjaga motivasi. Tak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri. Semuanya harus dihadapi tanpa bergantung pada siapa pun. If nobody helps you, do it alone.

Sendirian bukan alasan untuk berhenti.

Buatku sendiri, target solo trekking untuk mencapai ketinggian 4000-an meter sudah terlampaui. Aku telah berhasil menembus batas itu, bukan hanya secara fisik, tapi juga mental. Aku melakukannya seorang diri, dengan kesadaran penuh dan dengan izin dari Yang Maha Kuasa. Pemandangan pegunungan Himalaya yang laksana serpihan surga juga sudah kusaksikan secara langsung, dengan kedua mataku. Aku sangat bersyukur sudah mendapatkan semua nikmat ini.

Mimpi besar memang menuntut pengorbanan besar. Selama ia tidak melanggar agama dan undang-undang, ia layak diperjuangkan.

Aku menghabiskan beberapa hari di Pokhara dan Kathmandu untuk bersantai. Hingga akhirnya aku pun meninggalkan Nepal di tanggal 7 Mei 2025 menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Perjalananku kututup dengan membeli beberapa kaos dan cendera mata, tanda kecil dari petualangan besarku. Tapi sejatinya, kenang-kenangan paling berharga bukan yang bisa dibungkus atau dibawa pulang, melainkan yang tersimpan dalam hati, yaitu tentang keberanian dan kejujuran diri yang kutemukan di negeri atap dunia.

Pulang. Aku harus pulang. Aku tahu, dunia masih luas, dan aku masih ingin berjalan. Aku ingin menjelajah sejauh yang aku bisa. Aku tidak takut, karena aku tahu jalan pulang, ke dalam diriku sendiri. Nepal, bagaimanapun, akan selalu ada tempat di hatiku.

Pulang dengan hati yang lebih tertata.

Tiket pulang dari Kuala Lumpur ke Bali pada 12 Mei 2025 yang sudah kupesan, kubiarkan hangus. Rencana perjalanan ke Vietnam pun kuurungkan. Jadwal pertemuan dengan dua rekanku di Da Nang dan Ho Chi Minh terpaksa kubatalkan. Aku harus pulang lebih awal dari rencana semula. Tak semua panggilan harus dijawab dengan mendaki. Puncak tak ke mana-mana, tapi yang ini tak bisa ditunda. Pada akhirnya, kubeli tiket dadakan penerbangan dari Kuala Lumpur ke Yogyakarta untuk tanggal 8 Mei 2025.

Panggilan pulang mengajakku menata ulang prioritas.

Meski rencana terhenti, hasrat untuk kembali ke alam belum benar-benar padam. Kapan naik gunung lagi? Apakah aku akan kembali ke Nepal? Aku percaya, kalau Allah mau angkat aku, pasti aku bisa terbang jauh lebih tinggi. Aku bertanggung jawab dengan diriku sendiri dan melakukan apapun yang aku bisa. Tapi entahlah. Hal-hal yang besar butuh waktu. Semakin ke sini, akan semakin banyak hal yang harus dijaga, semakin sempit ruang untuk kembali ke ketinggian. Sementara gunung tetap memanggil, dalam diam yang panjang. Kini hidup mengajak ke jalan yang berbeda. Arah hidup pun perlahan bergeser.

Pada realitas yang sedang kujalani, aku sudah berdamai dengan masa laluku dan menata hari depan. Setelah masa panjang untuk menyembuhkan, akhirnya hatiku kembali siap menerima takdir selanjutnya. Ada masa ketika aku berhenti, menenangkan diri, merapikan hati. Sekarang, sudah waktunya bergerak lagi. Aku rasa aku telah menang di pegunungan, dan aku ingin menang juga di kehidupan. Ruang yang dulu kosong mulai terisi cahaya. Sekarang, ijinkan aku untuk melanjutkan hidupku.. yang baru.

Pada akhirnya, semua perjuangan menemukan jawabannya dalam satu rasa, yaitu rasa cukup. Ada yang bilang, setiap pendakian adalah perlombaan dengan diri sendiri. Mungkin benar. Namun hari itu, di bawah bendera-bendera doa yang berkibar, aku merasa tidak sedang berlomba dengan siapa pun. Aku hanya berjalan pulang. Pulang kepada diriku sendiri.

Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang telah lalu, tolonglah aku dalam apa yang tersisa, jadikanlah sebaik-baik umurku di akhir kehidupanku, dan sebaik-baik amalanku pada penutupnya.

Yogyakarta, 15 Desember 2025

Don't Miss